ESENSI MALU DALAM KEHIDUPAN

Ruang Muslim

Sifat malu termasuk diantara sifat terpuji yang sudah ditinggalkan oleh banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang bersifat dengannya serta membentenginya agar tidak terjerumus dalam perilaku buruk. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Al hayaa'u laa ya'tii illaa bikhairin

“Sesungguhnya rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan” [HR. Bukhari]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa malu merupakan bagian dan cabang dari keimanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Iman memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAH dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu salah satu cabang dari keimanan” [HR. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengingatkan atau mencela saudaranya yang pemalu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah sebagian dari iman” [HR. Bukhari]

Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa malu bukan suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat terpuji.

Simak juga apa yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, ”Kata al-Hayâ’ berasal dari (satu kata dasar dengan) al-hayat (kehidupan). Oleh karena itu hujan juga disebut al-hayâ (pembawa kehidupan). Kadar rasa malu seseorang sangat tergantung dengan kadar hidupnya hati. Sedikitnya rasa malu merupakan indikasi hati dan ruhnya telah mati. Semakin hidup hati seseorang, maka rasa malunya akan semakin sempurna.”

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu ? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam hatinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat semaunya, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hatinya. Na’ûdzu billâh.

Setelah mengetahui urgensi rasa malu dan manfaatnya bagi seorang hamba, cobalah sekarang kita memperhatikan kondisi manusia saat ini. Sungguh sangat menyedihkan keadaan sebagian orang saat ini. Mereka telah mencampakkan rasa malu sampai seakan tidak tersisa sedikitpun dalam diri mereka, sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana; aurat yang semestinya ditutup malah dipertontonkan; perbuatan amoral dilakukan terang-terangan; rasa cemburu pada pasangan sirna. Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan. Ketika ini dipermasalahkan, banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, tapi inilah realita.
Termasuk tanda hilangnya rasa malu dari sebagian wanita pada zaman ini yaitu mereka membuka hijab dan jilbab mereka. Aurat yang seharusnya mereka tutupi, justru mereka pertontonkan kepada khalayak ramai. Mereka keluar rumah dengan dandanan menor, pakaian minim, berbagai hiasan dan aksesoris yang menarik perhatian menempel di tubuh mereka serta tak ketinggalan aroma semerbak yang bisa menggait lawan jenisnya. Sorot mata jalang yang seharusnya membuatnya risih dan malu, justru semakian menimbulkan rasa bangga. Na’udzu billah

Kemanakah rasa malu yang merupakan bagian dari iman seseorang ?

Diantara fakta yang juga menyedihkan yang mengisyaratkan menipisnya rasa malu atau bahkan hilang sama sekali dari sebagian kaum Muslimin yaitu kegemaran mereka terhadap lagu-lagu atau film-film yang jauh dari norma-norma Islam.

Dimanakah rasa malu dari seseorang yang membiarkan anak-anak mereka berkeliaran semaunya, bergaul dengan sembarang orang, melakukan aktifitas tanpa bimbingan dan membiarkan mereka diperbudak hawa nafsu. Yang baik dipandang buruk dan yang buruk terlihat indah dan menyenangkan karena tertipu dengan nafsu syahwat.

Dimanakah rasa malu dari para pegawai yang tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diamanahkan kepada mereka ? Dimanakah rasa malu dari para pedagang yang melakukan penipuan dan tindakan curang, dusta dalam perdagangannya ?

Hendaklah kita semua senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan hendaklah kita senantiasa memupuk keyakinan bahwa Allâh Azza wa Jalla selalu mengetahui apapun yang kita lakukan di semua tempat dan waktu.

Allah berfirman , yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” [al-Mulk: 12]

[Diambil dan disingkat dari http://www.almanhaj.or.id, dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1431H]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s