Kisah Syuraih mengadili permasalahan kuda

Ruang Muslim

Amirul Mukminin (yakni gelar bagi Kepala Negara dalam Daulah Islam, yang artinya “pemimpin orang-orang beriman”) ‘Umar bin al-Khatthab membeli seekor kuda dari seorang Arab badui (Arab pedalaman). Setelah membayarnya, ia menaiki kuda itu dan menghelanya pergi. Akan tetapi, belum jauh ia mengendarai kuda itu, terlihat cacat yang akhirnya menghalanginya untuk tetap berlari. Ia pun membawa kembali kuda itu dan protes kepada penjual.

“Ambil kembali kudamu. Ternyata kuda itu cacat!” kata ‘Umar.

“Tidak, wahai Amirul Mukminin. Kuda ini saya jual kepada Anda dalam kondisi sehat dan masih kuat,” kata si Arab badui enggan menerima kembali kuda itu.

“Kalau begitu, kita cari saja hakim untuk menyelesaikan masalah kita ini,” ‘Umar memberikan tawaran.

Baiklah. Biarkan Syuraih bin al-Harits al-Kindi yang menjadi hakim,” terima si Arab badui.

(Syuraih dikenal sebagai orang yang pandai dan jujur).

“Mari!” kata ‘Umar setuju.

Berangkatlah Amirul Mukminin bersama pemilik kuda ke hadapan Syuraih. Setelah mendengar penuturan Arab badui itu, Syuraih menoleh ke arah ‘Umar.

“Apakah Anda tadi membeli darinya kuda dengan kondisi sehat, wahai Amirul Mukminin?” tanyanya kepada ‘Umar.

“Ya, aku membelinya sehat,” jawab ‘Umar.

Ambillah yang telah Anda beli, wahai Amirul Mukminin. Kalau tidak, kembalikan kuda itu dalam kondisi sebagaimana ketika Anda beli ! putus Syuraih.

Dengan pandangan takjub ‘Umar melihat ke arah Syuraih. Hanya beginikah pengadilan ini? Singkat, tetapi sangat adil,” kata ‘Umar.

“Berangkatlah ke Kufah karena aku akan mengangkatmu sebagai hakim di sana!” perintah Amirul Mukminin.

— Hikmah dari kisah ini:

  1. ‘Umar, walaupun posisinya sebagai kepala negara, tidak segan untuk menerima keputusan yang benar dari orang yang mengadilinya, walaupun keputusan tersebut merugikan dirinya.
  2. Hendaklah seorang pemimpin mengangkat pejabat yang pandai, jujur dan shalih sebagai pembantunya dalam mengatur negeri.